Aspirasikan Kembali Pembangunan Patung Pahlawan Nasional PB X, Ketua FBM, Pentingnya Memaksimalkan Potensi Wisata Keraton Surakarta Untuk Masyarakat

Ketua Umum FBM, BRM Dr Kusumo Putro,S.H.,M.H


FBM-Sebagai Kota Budaya, Sejarah dan Pariwisata, Solo memiliki banyak destinasi wisata unggulan. Salah satunya adalah Keraton Mataram Islam Kasunanan Surakarta yang di tetapkan oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian terkait sebagai cagar budaya Tingkat Nasional.

Penetapan status cagar budaya Nasional tersebut tentu harus di barengi dengan implementasi perlindungan, perawatan dan pemanfaatan potensi pariwisata yang ada, sejalan dengan Undang Undang No 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.

Pokok utama dalam pemanfaatan tersebut tentu saja untuk kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan obyek wisata, edukasi dan kegiatan sosial budaya. Sekaligus sebagai bahan penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Penguatan Identitas dan Jatidiri Bangsa di dalam memperkuat karakter jati diri Nasional.  

Pengembangan potensi cagar budaya ini harus di barengi dengan faktor penunjang antara lain penataan kawasan, penguatan potensi melalui promo wisata, sekaligus mengenalkan para tokoh pahlawanan dari Keraton Kasunanan Surakarta agar masyarakat mengenal lebih dalam keteladanan para pahlawan berikut perjalanan sejarah bangsa.

Oleh karena itu Ketua Umum Forum Budaya Mataram (FBM), BRM Dr Kusumo Putro, S.H, M.H kembali menyuarakan kepada Pemerintah Kota maupun Pemerintah Pusat, untuk segera membangun patung Pahlawan Nasional Pakoe Boewono X (PB X).

Beberapa titik strategis pembangunan patung tersebut kata Kusuma dapat di lakukan diantaranya, di kawasan flyover Purwosari yang dinilainya sebagai pintu masuk Kota Solo dari arah Barat. Selanjutnya di depan balaikota atau di sekitaran gapura gladak yang lokasinya tak jauh dari patung pahlawan kemerdekaan Slamet Riyadi.

Di harapkan oleh Ketua Umum FBM dua patung pahlawan Nasional tersebut nantinya, dapat menjadi symbol kepahlawanan yang berbeda masa didalam menentang kolonial dan berjuang kemerdekaan. 

‘Pembangunan patung PB X juga bisa di lakukan ditempat lain yang di nilai strategis tidak hanya histori kesejarahan dan kepahlawanan, namun juga kajian tata kota, filosofi, budaya dan daya Tarik. Sehingga akan memperkuat symbol budaya di Kota Solo’ Ujar BRM Dr Kusumo Putro, S.H,.M.H yang juga Ketua Dewan Pemerhati Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI). 

Apalagi saat ini Keraton Kasunanan Surakarta sudah di tetapkan sebagai cagar budaya Nasional, sehingga upaya pelestarian yang di lakukan oleh Pemerintah melalui Kementerian terkait seharusnya tidak hanya berkutat pada obyek cagar budaya yang ada, tetapi kawasan lain juga harus turut di benahi karena merupakan satu kesatuan yang saling mendukung dalam landscape cagar budaya di Kota Surakarta. 

Alasan di suarakanya pembangunan patung pahlawan nasional PB X ujar Ketua Umum FBM bukan tanpa sebab.

Selain aspirasi masyarakat Kota Solo, pembangunan patung tersebut juga akan menjadi pengingat para generasi muda bahwa Solo memiliki pahlawan Nasional, sekaligus contoh keteladanan nilai nilai kepahlawanan dan kesejarahan

Bagi Kusumo, PB X tidak hanya sosok pahlawan yang memiliki andil sangat besar mendukung perjuangan menentang kolonialisme, akan tetapi di masa kepemimpinanya beliau juga membangun sejarah peradaban dengan menjembatani tradisi jawa dengan kemajuan jaman modern pada masa itu.

Sejarah mencatat, PB X pernah membangun pusat operasional pembangkit Listrik yang di beri nama Solosche Electrisireits Maatschappij (SEM) yang didirikan pada tanggal 12 Maret 1901 yang memasok energi ke kota, kantor kantor pemerintah dan keraton, sekaligus mempercepat modernisasi kota, menerangi jalan dan mendukung transportasi trem listrik pada tahun 1912.

Pembangunan pembangkit Listrik ini menandai awal mula modernisasi yang di lakukan oleh PB X di bandingkan kota kota lain setelah Batavia. Karena pada waktu itu listrik merupakan barang mewah yang hanya bisa nikmati oleh elite pribumi, raja dan warga Eropa.  

Dalam bidang ekonomi, PB X membangun Pasar Gede Harjonagoro dan mendirikan Bank Bandha Lumaksa untuk menggerakan perekonomian dengan cara memberikan pinjaman kepada para abdi dalem.

PBX juga mendirikan Sekolah Pamardi Putri, HIS Ksatriyan dan sekolah pertanian di Tegalgondo, Klaten. Selain itu juga mengembangkan sekolah pendidikan umum dan pendidikan islam antara lain Madrasah Mambaul Ulum dan menghidupkan kembali Pesantren Jamsaren. 

Di masa Pemerintahanya, PB X juga banyak membangun Infrastruktur modern yang sampai saat ini masih dapat kita lihat seperti Stasiun Solo Jebres, Stasiun Solo Kota, Taman dan Stadion Sriwedari, Kebun Binatang Jurug, Jembatan Jurug, gapura batas Kota Surakarta, rumah pemotongan hewan ternak di Jagalan, dan rumah perabuan jenasah warga Tionghoa. 

PB X tercatat sebagai orang sekaligus raja Jawa pertama pemilik mobil yang dipesan melalui perusahaan Prottle & Co yang berkantor di Pasar Besar, Surabaya.

Pembangunan patung PB X jelas Kusumo akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan cagar budaya  Keraton Kasunanan Surakarta. Manfaat Pembangunan tersebut tidak hanya memperkuat identitas dan kebanggaan nasional, tetapi juga memperkuat jati diri bangsa di dalam menanamkan rasa kebanggaan pada warisan leluhur dan cermin kepribadian bangsa.

Sekaligus akan mampu memberikan kontribusi kesejahteraan ekonomi melalui pengeloaan destinasi wisata, ekonomi kreatif masyarakat local, serta dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan inovasi seni budaya.

‘ Selain itu membangun toleransi terhadap keberagaman budaya daerah dalam memupuk dan meningkatkan nilai persatuan di masyarakat’ Tukasnya. / red