Sejarah Tari Sakral Bedaya Ketawang

 

 

BUDAYA- Bedaya Ketawang merupakan tari sakral yang di gelar hanya pada saat jumenengan atau kenaikan tahta Raja Mataram Islam di tanah Jawa, yang di awali pada masa kepemimpinan Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Tingalan jumenengan merupakan puncak tradisi hajad dalem yang di peringati setiap tahun berdasarkan perhitungan kalender Jawa.

Di sebut sebagai puncak, sebab tradisi tersebut merupakan siklus keberlangsungan kedudukan tahta seorang raja yang harus di jaga sebagai wujud kemanunggalan kawula Gusti, untuk kemakmuran Keraton beserta para kawulanya.  

Bedaya Ketawang di yakini oleh masyarakat Jawa, khususnya di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta memiliki hubungan erat dengan penguasa laut Selatan.

Asal usul sejarah Bedaya Ketawang

Di kutip dari serat kuna tentang asal usul tari bedaya ketawang. Kala itu bertepatan tahun jawa 1565 saat tengah malam, Raja Mataram Sultan Agung Hanyakrakusuma bersemedi mengheningkan cipta menata rasa memuja kepada Hyang Maha Kuwasa.

Suasana malam saat itu serasa sangat hening, ia berada dalam kekosongan memuja brata. Dalam keheningan,  samar terdengar suara gamelan lokananta. Suaranya lembut tetapi terdengar jelas di telinga sang Prabu Hanyakrakusuma.

Berdenting dari satu irama berpindah ke irama yang lain,  sangat merdu nan mistis suaranya. Di belakang suara gamelan  samar terdengar gending lagu yang sangat indah, namun terasa sekali kekuatan ghaibnya. Sehingga mau tidak mau membuat Sultan Agung bergetar akibat pancaran ghaib yang keluar dari lantunan tembang tersebut.  

Dalam penglihatanya tampak bayangan kehidupan zaman kadewatan. Para bidadari menari di iringi gending lokananta.  Penglihatan tersebut tampak nyata sekali, sehingga ia mampu mengingat semuanya, baik tarian para penari, gending lokananta serta  tembang pengiringnya.

Sampai saat matahari  menampakan diri di ufuk timur, Sultan Agung sama sekali tidak bisa tidur. Ia terus mengingat semua yang ia dengar dan lihat.

Pagi itu Sultan Agung langsung memanggil para sesepuh dan empu karawitan mereka antara lain, Kanjeng Panembahan Purubaya, Kyai Panjangmas, Dalang sekaligus empu karawitan, Pangeran Panji Mudha Bagus dari Karanggayam yang di kerap di sebut sebagai Pangeran Karanggayam II atau putra dari Kyai Panjangmas, serta Raden Tumenggung Alap Alap yang juga empu karawitan dari Mataram.

Kepada para empu, Sultan Agung bercerita tentang kejadian yang dia alami saat  melakukan puja brata.

Oleh karena tumbuh dari rasa keinginanya membuat tarian berdasarkan petunjuk ghaib yang dia terima dalam puja brata,  Sultan Agung lantas meminta kepada para empu untuk menata tembang dan iringan gending lokananta yang dia dengar saat memuja brata.

Di kisahkan waktu itu para empu belum sempat menata tembang dan gending lokananta, tiba tiba Kanjeng Sunan Kalijaga hadir di tengah tengah mereka secara ghaib entah darimana datangnya. Kepada Sultan Agung dan para empu karawitan, Kanjeng Sunan Kalijaga menyatakan kegembiraanya karena Sultan Agung berkenan menata gending bedaya.

Sunan Kalijaga bekata, bahwa gending bedaya tersebut adalah pemberian Hyang Widhi, kelak akan menjadi pusaka raja raja Mataram sampai dengan akhir zaman, serta menjadi pegangan bagi raja raja Jawa dan membawa berkah keselamatan untuk negari.

Sunan Kalijaga juga berkenan membangun gending pembukaanya yang di ambil dari tembang durma, kemudian di sambungkan dengan beberapa tembang yang lain sampai dengan tembang penutup. 

Para empu karawitan di Mataram semua berkenan dan berharap  berkah dari wali linuhung.  Gending tersebut lantas di berinama gending ketawang, laras pelog pathet lima.

Kepada Sultan Agung dan para empu karawitan Kanjeng Sunan Kalijaga berpesan, saat malam Selasa Kliwon gending tersebut diminta untuk ngisis atau membunyikan barang sejenak karena sangat besar daya ghaibnya.

Serta dapat menjadi tumbal bagi keselamatan negari, ketenteraman, loh jinawi, kertaraharja dan lain sebagaianya. Bahkan sampai turun temurun kelak tidak akan ada yang mengganjal keberlangsungan Keraton Mataram Islam di Tanah Jawa.

Setelah memberikan penjelasan panjang lebar, Sunan Kalijaga lantas memohon pamit ia hilang dari pandangan mata. Mendengar nasehat wali linuhung, tersebut Sultan Agung hatinya merasa lega, ia kemudian membubarkan musyawarah dengan para empu karawitan.

Di kisahkan selanjutnya, Sultan Agung kemudian membangun gending lokananta sebagai pengiring bedaya, dan mengambil para putri priyagung bupati nayaka berjumlah delapan orang yang di pilih berparas cantik, berkepribadian prigel dan luwes. Kemudian ia mengambil  satu lagi putri dari putra atau cucu pepatih dalem sehingga genap berjumlah sembilan orang.   

Dengan susunan delapan orang dari putri manggala praja dan satu orang dari putri pepatih dalem yang  di maknai sebagai saka guru yang selalu bergandengan dengan keraton. Bedaya ini juga menandai lahirnya pertama kali bedaya keraton jawa di jaman keislaman.

Di harapkan melalui tarian tersebut keraton beserta para kawula senantiasa ingat atas jasa dan pengorbanan para manggala praja. Serta mengingatkan bahwa bedaya merupakan budaya jawa yang menuntun kita pada laku semedi.

Selain itu juga mengingatkan, bahwa gendhing karawitan memiliki makna yang sangat dalam dan adiluhung. Oleh sebab itu bedaya menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan raja raja Jawa.

Di kisahkan saat para penari tengah belajar tari bedaya, tiba tiba mereka di kejutkan atas kehadiran Kanjeng Ratu Kencanasari, ratu jin dan lelembut yang berkuasa di laut Selatan.

Kanjeng Ratu Kencanasari waktu itu berkenan mengejawantah, menampakan diri dengan riasan yang sangat cantik sekali berbusana bak pengantin putri. Dia berkenan mengajar bedaya gending ketawang kepada para penari tidak hanya sekali dua kali, namun sampai tiga bulan setiap matahari tenggelam di ufuk barat.

Kehadiran Kanjeng Ratu Kencanasari mengajarkan bedaya karena tertarik dengan suara gending adiluhung yang membawa prebawa luhur. Oleh karena kesukaanya pada gending ketawang tersebut, maka setiap kali gending ketawang tersebut berbunyi, Kanjeng Ratu Kencanasari selalu berkenan hadir.

Oleh karena itu setiap kali gending bedaya ketawang di bunyikan, selalu di iringi dengan sesajen lengkap dan asap kemenyan sampai dengan berakhirnya gending bedaya ketawang.

Seiring dengan berjalanya waktu, bedaya ketawang kemudian menjadi pusaka keraton Mataram sampai dengan jumeneng dalem Sinuhun PB XI. Bahkan sampai dengan sekarang, bedaya ketawang masih di anggap sebagai pusaka keraton atau babon tari di keraton Mataram Islam. / Fbm