BUDAYA-Keris tidak hanya mahakarya agung para
leluhur Nusantara, tetapi banyak makna luhur di dalam keris yang sarat tentang nilai
kemanunggalan kawula kelawan Gusti. Dalam Serat Centhini, Mpu Ngeksiganda
mengungkapkan dawuh Kanjeng Sunan Kalijaga agar memuliakan keris untuk mengetahui
makna arti dan rahasianya
Dalam manuskrip tersebut bagian keris yang
dianggap paling luhur yaitu Ganja, pangkal keris pada bagian atas pesi (
pegangan keris ), sebagai perlambang antara Tuhan dengan hambanya. Keduanya
sebenarnya satu wujud, meskipun dikatakan dua tetapi bagaimanapun tetap satu.
Sirah cecak memiliki makna Betal Makmur,
kepala manusia, sebagai tempat keramaian keluar masuknya seluruh ingatan
manusia.
Tikel Alis, maknanya nafsu tiga hal, sabar,
maklum dan nafsunya hati, suci dan selamat.
Lambe gajah, memiliki makna lisan kita
sebagai insane kamil. Alat komunikasi kepada Allah yang bersifat rupa sebenarnya
yakni, sabda Kunfaya kun.
Selain makna tersebut di atas, masih banyak
makna luhur lainya di dalam ricikan keris.
Keris tidak hanya sebagai symbol
kewibawaan, tetapi di yakini juga memiliki kekuatan dahsyat seperti halnya
keris Nagasasra Sabuk Inten.
Keris yang di babar atas dawuh Kanjeng
Sunan Kalijaga tersebut di yakini bagi siapapun yang memiliki akan menjadi
raja.
Keris Nagasasra konon di buat sebagai
symbol kekalahan Majapahit oleh Demak Bintara. Kalah bukan berarti menyerah
kalah, tetapi masih ada kekuatan lain dari para bangsawan di luar pulau Jawa
dan kerajan kerajaan lain diluar Nusantara sekutu Majapahit yang memiliki kekuatan perang mampu menggempur
Demak Bintara.
Kekuatan tersebut di simbolkan dalam bentuk
bilah keris Nagasasra berikat intan.
Banyak kisah menceritakan keampuhan Keris
Nagasasra Sabuk Inten yang selama ini di yakini di buat di era Majapahit.
Begitupun para Mpu dan pemerhati keris lainya juga menyatakan hal sama. Keris
Nagasasra Sabuk intan memiliki tangguh Majapahit.
Pun demikian tidak dengan kata Mpu Totok
Brojodiningrat semasa beliau masih hidup. Ahli pawukon dan filsafat Jawa yang
juga pemilik Padepokan Brojodiningrat tersebut
memaparkan, bahwa Keris Nagasasra Sabuk Inten berdasarkan manuskrip kuna yang
di tulis dalam bentuk tembang macapat di buat pada jaman kerajaan Demak Bintara.
Runtuhnya Majapahit oleh Demak yang di
tandai dengan sengkalan sirna ilang kertaning bumi menjadi awal peralihan
Majapahit ke Demak Bintara. Peralihan zaman tersebut merupakan babak baru
lahirnya tangguh Demak Bintara.
Peralihan Majapahit ke Demak tidak hanya
pusat pemerintahan kerajaanya saja, tetapi para Mpu Mpu Majapahit juga turut di
boyong ke Demak Bintara. Tak terkecuali Mpu Supa yang merupakan adik ipar
Kanjeng Sunan Kalijaga.
Oleh sebab itu tidaklah aneh jika tangguh
Demak dengan tangguh Majapahit dikatakan sama persis tidak ada bedanya.
‘ Karena Mpu pembuatnya berasal dari
Majapahit semua’ Terang Mpu Totok Brojodiningrat waktu itu.
Dalam suluk tembangraras dan Suluk Pangeran
Wijil Kadilangu III di terangkan, Keris Nagasasra dapur Buto Ijo, Sabuk inten,
Sepokan, Anoman, Njaruman, di buat sekitar tahun 1380 S oleh Mpu Domas.
Selama ini keris Nagasasra selalu di
asumsikan di buat di era Majapahit, karena kerap di ceritakan di dalam buku buku
cerita fiksi.
Namun jelasnya, jika merunut naskah naskah
kuna dalam suluk tembangraras dan naskah Pangeran Wijil Kadilangu III secara
jelas di katakan, Keris Nagasasra di babar oleh Mpu Domas di era Pemerintahan
Syech Akbar atau Raden Patah.
Perbedaan keris Majapahit dengan Demak kata
Mpu Totok Brojodiningrat hampir tidak ada, karena dalam pupuh Maskumambang di sebutkan, Keris
tangguh Demak dan Majapahit hampir tidak ada perbedaanya.
Seluruh ricikan, tintingan dan seblaknya
sama persis dengan tangguh Majapahit.
Untuk menangguh keris tidak hanya asal di
tangguh berdasarkan ciri ricikan, tetapi juga harus merunut ke dalam fitroh
manuskrip manuskrip kuna.
Oleh karena itu jangan ada lagi orang
menangguh keris Nagasasra tangguh Majapahit, Padjajaran, Kediri ataupun
Singosari. Sebab Keris Nagasasra di buat era kewalian Demak Bintara./ fbm

