SEJARAH-Sedekah sesaji mahesa lawung di alas krendawahana di gelar pertama kali pasca kerajaan Gilingaya di terpa pagebluk yang menyebabkan kerajaan menjadi kacau balau. Rakyat mati tanpa sebab, pagi sakit sore mati, sore sakit pagi mati, begitu seterusnya.
Melihat kondisi kerajaan yang begitu kacau, Prabu Sitawaka lantas mengutus Brahmana Radhi untuk mencari cara agar pagebluk tersebut sirna. Oleh Brahmana Radhi lantas di lakukanlah penumbalan sesaji bertepatan pada tahun 387 yang di tandai dengan Candra Sengkala Pujaning Brahmana Guna.
Setelah dilakukan sedekah sesaji, seluruh pagebluk yang menimpa kerajaan Gilingaya lambat laun hilang. Tradisi sedekah sesaji tersebut kemudian berlanjut sampai pada masa Kerajaan Majapahit , Demak hingga Mataram Islam di tanah Jawa.
Oleh sebab itu dalam rangkaian doa yang di haturkan saat sedekah sesaji tersebut dilakukan, digunakan tiga doa dari tiga keyakinan yakni Budha, Jawa dan arab.
Dalam sebuah manuskrip kuna di jelaskan bahwa Alas Krendawahana merupakan keraton ghaib milik Batari Kalayuwati, putri Betari Durga. Krendawahana juga merupakan kahyangan Betari Durga.
Dinamakan sesaji mahesa lawung sebab pada masa itu kepala kerbau yang di tumbalkan untuk sedekah di ambil dari kerbau liar yang di lawung atau di bunuh dengan cara di tombak.
Sementara itu Betari Durga dalam berbagai cerita di kisahkan sebagai ratu raksasa yang menguasai para lelembut. Ia beubah menjadi sosok dewi welas asih berparas ayu setelah di ruwat oleh Sadewa. /fbm

